Pendahuluan
Banyak perbedaan yang ada di antara umat Islam. Baik itu di bidang teologi, fiqh, maupun ilmu-ilmu yang lain, termasuk ilmu Nahwu. Bagi orang yang terpelajar, tentu perbedaan-perbedaan yang demikian tidak menjadi masalah, sebab bukan termasuk asas sebagaimana bidang akidah. Namun, menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut adalah lebih baik. Oleh sebab itu, dalam tinjauan buku kali ini, kita akan membahas perbedaan tipe-tipe badal yang terdapat di dalam tiga kitab—dengan maksud—menjawab pertanyaan: dari segi apa saja perbedaannya dan secara esensi patutkah perbedaan itu dipermasalahkan. Berikut uraiannya.
Pengertian Badal
Sebagaimana judul di atas, bahwa yang berbeda adalah segi pembagiannya, bukan definisi. Oleh sebab itu di sini akan dikutipkan satu saja, yaitu badal secara bahasa adalah ganti. Sebagaimana makna tersebut bisa kita temukan dalam firman Allah Ta’ala:
عسى ربنا أن يبدلنا خيرا منها
“Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan yang lebih baik darinya.” (QS. Al-Qalam [68]: 32).
Adapun secara istilah ahli Nahwu, adalah kata yang mengikuti yang semaksud dengan hukum tanpa adanya perantara.[1]
Tipologi Badal
Menurut buku yang pertama, badal dibagi ke dalam empat jenis: badal kull min kull (badal muthabiq), badal ba’dhi min kull, badal isytimal, dan badal ghalath atau nisyan. Menurut yang kedua, badal terbagi enam: badal kull min kull, badal ba’dhi min kull, badal isytimal, badal idhrab, badal nisyan, dan badal ghalath. Dan menurut buku yang ketiga, badal terbagi empat: badal kull min kull (badal muthabiq), badal ba’dhi min kull, badal isytimal, dan badal mubayin.
Penjelasan Badal dalam Buku Pertama
1. Badal kull min kull adalah setiap tabi’ (kata yang mengikuti) yang mengandung diri mathbu’-(kata yang diikuti)nya. Contoh:
اهدنا الصراط المستقيم. صراط الذين...
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan…” (QS. Al-fatihah [1]: 6-7)
Kata shirath yang kedua adalah badal dari mathbu’nya, yaitu kata shirath yang pertama.
2. Badal ba’dhi min kull adalah tabi’ yang mengandung makna bagian dari keseluruhan mathbu’nya। Contoh:
طاب أخوه قلبه
(Saudaramu baik hatinya)
Kata qalbu di situ adalah badal yang merupakan bagian dari si saudara.
3. Badal isytimal adalah tabi’ yang mengandung cakupan dari mathbu’nya, bukan bagian। Contoh:
نفعنى المعلم علمه
(Ilmu guru itu bermanfaat bagiku)
Kata ‘ilmu di situ adalah badal yang merupakan cakupan dari mathbu’nya (al-mu’allim) yang juga mencakup kata ‘aalim, dan sebagainya.
4. Badal ghalath atau nisyan adalah apa-apa yang disebutkan untuk menjadi pengganti dari lafaz yang sebelumnya yang terucap akibat kesalahan lisan atau pikiran. Contoh:
أعطنى القلم – الورقة
(Berikan aku pena, eh bukan tapi kertas)
Penjelasan Badal dalam Buku Kedua
1. Badal kull dalam buku ini contohnya sama dengan contoh badal kull dalam buku pertama.
2. Badal ba’dhi contohnya:
ولله على الناس حج البيت من استطاع إليه سبيلا
“Dan di antara kewajiban manusia kepada Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu.” (QS. Ali Imran [3]: 97)
Ket.: kata man di situ merupakan badal dari kata al-naas, yang menunjukkan makna sebagian manusia, bukan keseluruhan.
3. Badal isytimal contohnya:
يسألونك عن الشهر الحرام قتال فيه
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan haram...” (QS. Al-Baqarah [2]: 217)
Ket.: kata qital di situ merupakan badal dari al-syahr, tetapi qital di situ bukan bermakna diri bulan dan juga bukan bermakna sebagian. Namun bermakna “pakaian” miliknya, karena qital terjadi di dalamnya.[2]
4. Badal idhrab contohnya:
إن الرجل ليصلي الصلاة ما كتب له نصفها ثلثها ربعها
Ket.: singkat kata, badal idhrab adalah badal yang merupakan pengganti dari mubdal minhunya, yang bukan lantaran lupa atau kekeliruan lisan, melainkan karena memang sengaja. Contoh dalam bahasa
Pinjamkan aku pena, eh bukan tapi pensil saja!
Pena di situ adalah mubdal minhu dari pensil yang diucapkan karena memang disengaja, dan bukan sebagaimana dalam kasus badal ghalath atau badal nisyan.
5. Badal nisyan contohnya:
جاءنى زيد عمرو
(Si Zaid datang kepadaku, eh bukan tetapi si ‘Amru)
Ket.: ‘Amru di situ adalah badal dari zaid yang bermaksud meralat ucapan karena lupa. Sebab, yang ingin diucapkan sebenarnya adalah ‘Amru, bukan Zaid.
6. Badal ghalath contohnya:
هذا زيد حمار
Ket.: Asalnya adalah sang pembicara hendak mengucapkan, “Ini adalah keledai.” Namun lisannya malah mengucapkan, “Zaid.” Karena ucapan itu, maka terangkatlah kesalahannya. Oleh karenanya, kasus yang seperti ini oleh ulama Nahwu disebut sebagai badal ghalath (pengganti kesalahan).
Penjelasan Badal dalam Buku Ketiga
1. Badal kull min kull: yang isim keduanya mengandung diri dari isim pertama. Contoh:
الأستاذ محمد أستاذ مخلص
(Ustadz Muhammad adalah ustadz yang ikhlas)
Ket.: kata Muhammad merupakan badal dari al-ustadz.
2. Badal ba’dhi min kull: yang isim keduanya mengandung sebagian dari isim yang pertama. Contoh:
حفظت القران الكريم نصفه
(Aku telah hafal Al-Quran setengahnya)
Ket.: kata nishfahu merupakan badal dari kata Al-Quran.
3. Badal isytimal: badal yang menunjuk kepada sifat yang dimiliki oleh mubdal. Contoh:
بهرنى الأستاذ علمه
(Ilmu guru besar itu melebihiku)
Ket.: kata ‘ilmuhu di situ adalah badal dari mubdalnya (al-ustadz).
4. Badal mubayin ada tiga jenis:
a. Badal idhrab: penjelasannya kurang lebih sama dengan badal idhrab di bagian sebelumnya.
b. Badal ghalath: badal yang merupakan ralat akibat kesalahan pengucapan lisan. Contoh:
سلمت على أبيك أخيك
Ket.: kata akhika di situ merupakan badal dari mubdalnya (abika).
c. Badal nisyan: badal yang merupakan ralat akibat lupa. Contoh: sama seperti contoh badal ghalath di atas.
Analisa Perbandingan Singkat
Setelah melihat uraian singkat pada masing-masing kitab, kita mengetahui bahwa perbedaan tipologi badal di atas adalah dari segi lahiriah, non substantif. Segi lahiriahnya adalah bahwa dalam buku pertama telah dijelaskan secara singkat dan padat mengenai macam-macam badal. Dalam buku tersebut, badal nisyan dengan ghalath dijadikan satu, yaitu diletakan pada nomor keempat dengan menambahkan kata sambung ‘atau’ antara keduanya. Ini disebabkan secara substansi sebenarnya badal di situ adalah sebagai peralat atau pembetul dari kesalahan yang disebabkan oleh tergelincirnya lidah maupun karena lupa. Tetapi dalam buku lain, antara badal nisyan dan ghalath dipisah dan dijadikan satu bagian sendiri.
Kesimpulan
Sebelum berakhir tulisan ini, perlu diakui bahwa analisa di atas belumlah final, sebab masih ada satu pembahasan lagi yang masih belum dipahami secara jelas oleh penulis, yaitu bagian badal idhrab pada buku kedua dan ketiga. Adapun penjelasan badal idhrab yang penulis tulis di bagian buku kedua, sebenarnya adalah penjelasan Dr. Muhammad Yusuf saat penulis mengikuti perkuliahannya yang kebetulan saat itu membahas tentang badal. Oleh karenanya, insya Allah pada kesempatan mendatang akan direvisi kembali kajian ini, atau dilanjutkan dengan tulisan lain yang berjudul “Penjelasan Badal: Bagian Kedua”.
[1] Muhammad Hamasah ‘Abd al-Lathif, dkk., Al-Nahwu al-Asasi (Nashr: Dar al-Fikr al-‘Arabi, 1997), h. 400.
[2] Klausa ini bersifat majas yang menggambarkan qital (peperangan) sebagai malabis (pakaian) yang dipakai oleh bulan haram. Artinya adalah bahwa ketika terjadi peperangan di bulan haram, maka peperangan itu telah meliputi bulan haram. Oleh karena itu ia disebut badal isytimal.
0 komentar:
Poskan Komentar
silahkan didiskusikan materi ini, dengan syarat: menggunakan bahasa yang baik dan sopan