Minggu, 04 Juli 2010

Budaya Penerjemahan

Adalah Khalid bin Yazid, cucu dari sahabat nabi Muawiyah yang dikatakan oleh Ibnu Nadim sebagai orang yang pertama kali memulai gerakan penerjemahan dalam dunia Islam. Semenjak itu, berbondong-bondonglah orang menerjemahkan karya-karya asing, yang puncaknya terjadi di zaman kekuasaan Daulah Abbasiyah. Kamil Muhammad Uwaidhah menjelaskan bahwa masa itu adalah masa penerjemahan, karena gerakan penerjemahan telah berkembang dan tersebar luas, terutama setelah adanya perhatian Khalifah al-Ma’mun kepada Baitul Hikmah yang berisi buku-buku dalam berbagai bahasa, antara lain bahasa Yunani, Persia, dan Hindia. Yang menjadi pertanyaan, apa manfaat budaya penerjemahan yang terjadi pada saat itu? Jawabnya, ada tiga: pertama, dalam penerjemahan terjadi proses transfer ilmu sehingga suatu ilmu tidak lagi menjadi monopoli satu bangsa. Ilmu filsafat yang bermula sejak dulu namun dicatat pertama kali oleh para cendekiawan Yunani sehingga muncul anggapan bahwa filsafat hanya dikuasai oleh peradaban Yunani , berkat penerjemahan yang dilakukan terhadap karya-karya filsafat Yunani menyebabkan cendekiawan muslim mampu mempelajari filsafat Yunani dan pada gilirannya mampu menciptakan aliran sendiri yang kini lumrah disebut filsafat Islam ; kedua, dengan penerjemahan menyebabkan suatu bangsa mendapatkan tambahan wawasan dan ilmu baru dari bangsa lain sehingga menyebabkan iklim kondusif bagi terciptanya simbiosis mutualisme. Secara logika, mustahil bangsa yang beradab akan menginvasi bangsa lain karena ia sadar memiliki “hutang” ilmu dan wawasan terhadap bangsa yang karya-karyanya ia terjemahkan ke dalam bahasa bangsanya ; dan ketiga, aktivitas penerjemahan sesungguhnya membuktikan pengakuan dan penghargaan suatu peradaban terhadap peradaban lain. Dalam dunia politik, hal ini dianggap penting sebab suatu bangsa yang tidak mengakui dan menghargai peradaban lain, cenderung disisihkan dari pergaulan internasional. Dengan demikian, tujuan penerjemahan bukan hanya demi keuntungan bagi segelintir elit (khususnya penerbit), tetapi juga demi terciptanya ketiga keuntungan di atas. Semoga kita, para mahasiswa dari latar belakang keilmuan berbeda, bisa berperan dalam menciptakan budaya penerjemahan sehingga kondisi negeri ini dan dunia menjadi lebih baik.

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan didiskusikan materi ini, dengan syarat: menggunakan bahasa yang baik dan sopan